Wednesday, April 11, 2018

Sinopsis Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 3 Part 3

Sinopsis Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 3 Part 3

Sumber: jtbc


Joon Hee mengajak Jin AH nonton film. Setelah membeli tiket, Joon Hee bertanya Jin Ah mau makan apa? Jin Ah bilang tidak usah.

"Kenapa? Bagaimana kalau minum Cola?" Tawar Joon Hee.

"Aku lagi merasa bersalah. Aku tidak bawa uang."

"Kalau tidak ada aku, kau tidak punya ongkos pulang. Gak bisa pulang ke rumah dong!"

"Ah, kena lagi."

"Harus kumanfaatkan dengan baik-baik. Kalau begitu anggap saja Colanya service dariku."

"Kalau begitu sekalian popcornnya juga dong!"


Saat Nonton film, mereka gak konsen sama film-nya tapi malah melihat penonton yang sedang berciuman tepat di depan mereka.

Jin Ah saja sampai salah minum cola-nya Joon Hee saking gugupnya. hahaha.


Saat keluar, Joon Hee bilang kalau film-nya jelek sekali.

"Berarti yang kau tonton itu bukan film." Balas Jin Ah.

"Sepertinya Noona juga menonton barang yang sama denganku."

"Enak aja!"

"Kau lapar?"

"Lapar dong!"

"Coba bilang "traktir aku makan yang enak dong!"

"Cari mati ya?"

Jin Ah menodong Joon Hee dengan payung itu. Joon Hee lalu meminta payungnya dari Jin Ah. Dan Joon Hee mulai jalan.

Jin Ah: Apa? Kau mau traktir aku makan? Kau bakal traktir, 'kan?


Mereka makan ohmuk dipinggir jalan. Jin Ah tiba-tiba melihat orang-orang pada main dan ia memuji mereka mainnya seru sekali.

"Sekalipun begitu jangan muji-muji di depanku." Kesal Joon Hee.

"Ah, oke oke. Aku yang gak ngerti baca sikon."

"Ini lagi memprovokasi aku untuk bisa melebihi itu."


Joon Hee lalu menghampiri tempat permainan itu dan mulai bermain.


Setelahnya Joon Hee akan melukis Jin Ah dan Jin Ah sibuk mencari gaya yang pas.

"Kapan selesainya? Cape sekali." Kata Jin Ah yang sudah lama bergaya. 

"Kurang fitur yang menonjol atau semacamnya. Tidak ada yang istimewa." Jawab Joon Hee.


Tapi Joon Hee hanya bercanda karena ia sudah selesai. Jin Ah lalu minta gambarnya, tapi Joon Hee minta upah dulu.

"Sudah kubilang aku tidak bawa duit. Harus pakai uang ya?"

"Terus maunya apa?"

"Aku sama sekali tidak bawa apapun. Oh, ada!"

"Apaan?"

"Mimik wajah yang luar biasa."


Joon Hee pun memberikan hasil gambarnya pada Jin Ah. Jin Ah tersenyum saat pertama melihatnya, tapi langsung memasang wajah bertanya-tanya, apa itu tampangnya?

"Persis banget! Wah, persis banget seperti kalau difoto." Jawab Joon Hee.

"Badanku itu seperti ini ya?"

"Iya, Noona 'kan badannya kecil."

"Hei, tapi sepertinya gak sekecil sampai segitunya."

"Seperti ini tuh! Noona itu kecil dan menggemaskan."


Jin Ah tersipu, menggemaskan apaan? Umurnya sudah berapa, dasar!

Joon Hee: Itu 'kan tergantung siapa yang lihat.

Jin Ah: Hmm... iya juga. Ah, tetap aja. Usiaku sudah jauh melewati usia di mana orang menyebutku menggemaskan. Waktu umur 20-an memang sih aku sering dengar orang bilang begitu.

Joon Hee: Ah aku sangat tahu masa lalu Noona. Kau nggak sampai segitunya.

Jin Ah: Iya juga, kau tahu masa laluku. Nggak ya sudah.


Jin Ah mengembalikan lukisannya pada Joon Hee dan mulai jalan. Joon Hee mengikutinya setelah mengambil payung itu.

Joon Hee: Ah, setelah kupikir-pikir lagi sepertinya iya. Benar, lumayan menggemaskan. Bagaikan bintang film.

Jin Ah cuma pura-pura kesal tapi aslinya ia senyum senang dipuji begitu.


Jin Ah berjanji akan mencari waktu untuk membalas Joon Hee 10 kali lipat untuk jalan-jalan dan makan-makan hari ini.

"Kau harus siap-siap bathin ya! Aku tidak akan malu-malu. Aku akan membantaimu." Jawab Joon Hee.

"Cukup sisakan bajuku saja."

"Dasar perempuan satu ini. Sepertinya kau sering sekali bercanda yang porno-porno?"

"Aku cuma sekedar bercanda saja."


Joon Hee membahas soal Jin Ah yang bilang ingin membenahi masa lalumu, ia bertanya, maka ia termasuk salah satu yang di dalam masa lalu Jin Ah, seperti itu 'kan?

"Apanya seperti itu?" Jin Ah balik nanya.

"Anu... apa maksudnya itu. Kenapa bisa kau punya pikiran untuk membuangnya sekalian?"

"Apa maksudmu membuangnya sekalian? Itu 'kan karena nggak sengaja kebawa. Makanya kupegangi terus."

"Tadi katanya takut mau hujan makanya dibawa."

"Yah, kalau hujan ya dipakai. Kalau nggak hujan lebih bagus lagi. Payung 'kan memang dipakai buat itu? Kenapa sih maksa harus ada makna apa."

"Anu, bukan begitu. Tapi tetap saja jangan dibuang-buang."


Joon Hee mengembalikan payung itu pada Jin Ah dan Jin Ah menerimanya, ia tidak akan membuangnya, pasti tidak akan pernah ia buang.

"Kenapa pasti?" Tanya Joon Hee.

"Kau memaksaku lagi pakai hal-hal yang aneh. Maumu apa sih?"

"Simpan baik-baik."

"Iya."


Mereka sampai di depan partemen. Jin Ah akan menekan sandi pintu, tapi Joon Hee bertanya, setelah naik ke atas apa yang akan Jin Ah lakukan? Langsung tidur?

"Nggak langsung tidur. Kenapa? Kau mau apa?"

"Mau ngapain jadinya?"

"Entah, kau maunya apa?"

"Mau barengan?"


Dan setelah mereka di rumah masing-masing, mereka main game bersama.


Setelahnya, Jin Ah senyum-senyum sendiri memandangi lukisan Joon Hee. Ia malu-malu gitu.


Sementara itu, Joon Hee melukis ulang wajah Jin Ah, tapi kali ini ia buat sangat mirip. Cantik banget~


Paginya, Jin Ah berangkat ke kantor dengan wajah yang ceria.


Di rumah, Ayah masuk ke kamar Jin Ah dan heran melihat pakaian berantakan di ranjang Jin Ah. Kemungkinan Jin AH tadi mencoba beberapa baju dulu sebelum berangkat.


Di lantai 12, Joon Hee celingukan di lift, ia mencari-cari Jin Ah, tapi yang keluar bukan Jin Ah. Ia pun masuk lift lagi.


Jin Ah rapat dengan anggota tim-nya. Karyawan pria bertanya, berapa lama Jin Ah akan ditempatkan di toko Gasan? Jin Ah juga belum tahu, ia nitip kedai-kedai yang lain pada semuanya, nanti ia akan traktir makan yang enak.

"Kami akan menunggu. Kalau begitu saya keluar dulu ya?" Jawab Karyawan pria itu sekaligus pamit.


Kemudian Se Young dan Bo Ra juga pamit.


Ye Eun membicarakan Se Young.

Ye Eun: Sepertinya setelah mengambil alih toko di Suseo (kedai Kyung Sun) bawaannya bahagia terus.

Jin Ah: Bekerja dengan bahagia, tentu saja aku senang.

Ye Eun: Yang dibicarakan sekarang bukan kerjaan. Dia ingin memiliki perkembangan dengan Seo Joon Hee-ssi.

Jin Ah: Ye Eun, kenapa kau tidak berharap mereka berdua bisa akur?

Ye Eun: Bukan saja tidak suka. Jika Kang Daeri pacaran dengan adikmu, menurutmu kau akan bagaimana?

Jin Ah: Adikku? Sungguh menggelikan. Ngomong apa sih kau?

Ye Eun: Coba lihat. Seo Joon Hee-ssi adalah adik temanmu. 'Kan gak beda jauh dengan adik kandungmu?

Jin Ah: Iya juga. Tapi adikku ya adikku. Adik teman dengan adik sendiri mana sama?

Jin Ah mendapat pesan dan ia langsung senyum. Ia bertanya pada Ye Eun, ada kopi apa saja di kantor? Tanpa menunggu jawaban, Jin AH langsung pergi.


Jin Ah ternyata memberikan kopi itu untuk Joon Hee. Joon Hee memuji rasanya, segar! Sungguh nikmat sekali.

"Oh ya? Aku cuma asal seduh saja."

"Asal seduh saja sudah seperti ini? Kopi yang bagus memang beda."


Namun Jin Ah bohong banget, ia berusaha keras membuat kopi itu sampai dapur kantor berantakan. Bo Ra yang pertama menemukan keadaan itu dan ia kesal, "Siapa sih sebenarnya? Dasar!"


Joon Hee sedang raoat dengan rekannya, tapi ia kelihatan lesu.

Si boss bertanya, apa Joon Hee tidak enak badan? Joon Hee menjawab ia sedikit mual dan kepalanya juga sakit sekali.

"Kalau sakit sebaiknya ke rumah sakit."

"Baiklah, kalau begitu aku segera ke sana."

Tapi Joon Hee juga boong, saat keluar dari ruang rapat, ia tersenyum bahagia.


Joon Hee ternyata bolos untuk mengantar Jin Ah. Ia lagi-lagi bohong kalau ia tidak sibuk, ia keluar setelah rapat usai.

"Aku 'kan sangat kompeten. Tanpaku perusahaan kami tidak akan bisa beroperasi." Sombong Joon Hee.

"Oh, sehebat itukah? Kok aku 'gak merasa ya?"

"Kau gak merasa? Noona sungguh tidak pintar dalam menilai pria."

"Hah, kau pria?"

"Aku 'kan cuma sekedar kasih metafora saja. Kenapa sih harus diperjelas?"

"Anu, aku bukan bermaksud menegaskan apapun. Kau adalah pria. Memang benar kau adalah pria."

"Ngomong apa sih?"


Joon Hee lalu bertanya pulang jam berapa nanti Jin Ah. Jin Ah menjelaskan kalau ia resmi mulai bekerja besok. Malam ini bisa keluar kapan saja.

"Aku jemput ya?" Tanya Joon Hee.

"Serius? Ah, nggak usah."

Tapi Jin Ah hanya bercanda, ia mau banget. Dan mereka ketawa.


Jin Ah memberi nasehat pada si boss yang sudah berhenti mogok.

Jin Ah: Mulai besok jam mulai beroperasi harus dipercepat. Sebaiknya jangan minum bir. Harus tidur pagian, ya? Semua bahan yang kurang, akan aku buatkan PO-nya.

Boss: Aigoo sepertinya peran tuan rumah dan tamu jadi terbalik. Entah boleh atau tidak aku menyiksa karyawan dari kantor pusat.

Jin Ah: Adalah sebuah kemewahan untuk memperhatikan hati nurani sekarang ini. Aja-aja hwaiting! Banyak rezeki masuk!

Boss: Hwaiting.


Si Boss membahas soal Jin Ah yang mendadak berubah menjadi begitu ceria, rasanya seperti dua orang yang berbeda. Apa karena orang yang sedang menunggu di luar itu?


Jin Ah menoleh ke depan dan langsung pamit pada si boss. Ternyata yang menunggu itu adalah Joon Hee.


Mereka pergi makan sambil ketawa-ketawa bersama. Bahagia banget pokoknya.


Joon Hee tiba-tiba bicara, "Noona, itu.. Maksudnya 'jika'..."

"'Jika' apa?"

"'Jika' aku..."

"Kau kenapa?"

"Maksudku bukan aku. Noona, anu... Aku... Memintamu traktir aku makan besok, kau bersedia?"

"Memangnya aku tidak pernah traktir kau makan? Tentu saja boleh, kutraktir kau makan sampai kenyang."

"Serius?"

"Tentu dong!"

"Baiklah."


Saat berjalan pulang, Joon Hee berusaha merangkul Jin Ah, tapi tidak jadi atau ia mungkin tidak berani.


Saat di mobil, Joon Hee juga kelihatan mau menggenggam tangan Jin Ah, tapi gak jadi terus. Gemes banget lihatnya.


Jin Ah juga sama ternyata, ia mau pegang tangan Joon Hee, tapi Joon Hee malah memegnag setir mobil.


Joon Hee merasa mereka terlalu cepat sampai di rumah Jin Ah. 

Jin Ah: Hari ini aku merasa senang.

Joon Hee: Bisa lebih seru lagi kalau mau.

Jin Ah: 'Kan bukan cuma hari ini sehari saja.

Joon Hee: Iya, 'kan?

Jin Ah: Kalau begitu... Aku pulang dulu ya? Kau pulanglah.

Tapi Joon Hee baru pergi setelah pintu lift yang Jin Ah naiki tertutup.


Ye Eun mengunjungi Jin Ah di kedai, ia memuji kerja Jin Ah dan Si Boss yang kompak sampai tempat itu selalu rame.

Jin Ah: Nada bicaramu terdengar sedikit aneh.

Ye Eun: Maksudku kalian bertemu di saat yang tepat. Hubungan antara pria dan wanita juga tergantung faktor timing. Sebagian besar itu dikarenakan cowoknya buta. Begitu gampang mengacaukan suasana.

Jin Ah: Iya. Aku merasa seperti ini. Tapi kalau timingnya salah terus, bagaimana dong? Nunggu terus sampai timingnya tepat?

Ye Eun: Kalau bukan mati karena dimakan usia, ya mati karena lemas. Jika kau terus-menerus mengetes hingga semuanya menjadi jelas, cuma bisa game over.

Jin Ah: Kenapa? Setidaknya sama-sama tahu kalau saling naksir.

Ye Eun: Tahu, tapi rasanya seperti hampir mati karena sesak nafas. Kebetulan datanglah seorang pemburu yang langsung menembak ke sasaran. Rasanya senang dan segar. Dia akan langsung direbut.

Jin Ah: Sepertinya timing itu sungguh penting.


Di kantor, Joon Hee dan rekan-rekannya melakukan permainan tembak, mereka menamai sasaran mereka dengan nama-nama makanan. Sepertinya mereka dapat jatah makan sesuai sasaran yang mereka tembak.

Joon Hee kebetulan mengenai Kkott deungsim (Ribeye Steak), mereka semua bersorak gembira. Lalu mereka semua laporan pada CEO.


Joon Hee mendapat pesan dari Jin Ah, mengatakan kalau malam ini ia harus balik ke kantor.

Joon Hee membalas: Kau masih kerja? Sebentar lagi acara makan-makanku akan segera berakhir. Kau rencana mau sampai jam berapa di sana?

Jin Ah membalas: Masih ada kerjaan yang belum beres. Sepertinya bakalan lama.


Se Young bertanya, siapa yang sedari tadi Jin Ah SMS? Jin Ah menjawab seorang teman. Se Young menebak, yang dari kedai Suseo itu? Kyung Sun?

"Bukan, teman yang lain."

Se Young: Ah... sudah selesai! Lapar. Ayo keluar cari makan yuk! Kau 'kan harus traktir aku makan?

Jin Ah: Aku... masih ada yang harus dikerjakan.

Se Young: Selain laporan kegiatan ada apa lagi?

Se Young mengintip dan ia tahu jelas kalau Jin Ah sudah selesai bekerja. Se Young berpikiran kalau Jin Ah tidak mau mentraktirnya makan. Jin Ah pun terpaksa setuju, ia akan traktir.


Joon Hee dan rekan-rekan sudah selesai makan, Joon Hee meminta ronde keduanya lain kali saja, tapi yang lain heran, toh  bukan Joon Hee juga yang bayar.


Dan saat keluar, mereka melihat Jin Hee menuju kesana. Joon Hee langsung memanggil Jin Ah, Noona? Joon Hee bertanya mau kemana mereka.

Jin Ah: Kami baru mau makan. Kalian lagi kumpul makan-makan?

Joon Hee: Iya, cuma kami beberapa orang saja. Kalian mau makan di mana?

Jin Ah: Di sekitar-sekitar sini.

Se Young: Kami lagi nyari juga. Tapi Joon Hee-ssi, kalau kalian kumpul makan-makan harusnya sudah selesai makan, 'kan?

Joon Hee: Ah, kami mau pergi minum-minum. Di situ tidak ada yang bisa dimakan. Kalau pergi sama-sama... tidak sesuai?

Se Young: Entah ya... Kami juga tidak berencana mau makan.


Dan mereka semua minum-minum bersama. Mereka mebahas soal pacaran, mereka menduga Se Young yang paling berpengalaman, tapi Se Young mengelaknya, ia tidak ada apa-apanya kalau dibanding Jin Ah.

Lalu rekan Joon Hee bertanya pada Jin Ah soal tipe pria idaman Jin Ah.

Jin Ah: Yah... Yang bisa membuatku merasa nyaman itu sudah cukup.

Semua menyimpulkan kalau Jin Ah benci pria nakal. Mereka langsung menyuruh Joon Hee pulang karena sudah gugur.


Se Young: Joon Hee-ssi, kau itu tipe pria nakal?

Joon Hee: Mereka bicara sembarangan.

Seung Cheol: Apanya yang sembarangan? Ya, oke. Kalau begitu anggap saja kau bukan. Ngejar cewek kapan kau pernah gagal? Gak pernah 'kan? Ini berarti apa? Begitu membulatkan tekad, cewek yang kau inginkan Sudah pasti--

Joon Hee: Cari mati ya kau?

Se Young: Maksudmu tingka keberhasilannya adalah 100%?

Joon Hee: Bukan, 99%.

Mereka heran, sisa satu persennya lagi itu apa? Artinya ada satu cewek yang gagal ditaklukkan oleh Seo Joon Hee. Siapa? Siapa sih?

Joon Hee mengajak mereka minum saja.


Jin Ah dan Se Young ada di toilet. Se Young bertanya, apa Jin AH tahu siapa wanita yang dimaksud Joon Hee?

"Mana mungkin aku bisa tahu?"

"Harusnya sih wanita yang usianya jauh di bawah kita."

"Kita 'gak setua itu, oke?"

"Entah siapa yang ngaku dirinya tua dan kesulitan bangun pagi."

"Itu karena.... kecapean sehingga kondisi tubuh tidak prima."

"Seberapa hebat wanita itu? Kenapa bisa Seo Joon Hee sampai gagal menaklukkannya? Tapi kau... kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?"

"Aku? Gak ada tuh!"

"Yang pasti dia memang ada seseorang. Tapi tidak ada perkembangan sama sekali dengan orang itu, benar 'kan? Jika melakukan serangan di saat seperti ini, kemenangan akan berpihak padaku. Aku harus mempercepat proses perkembangannya. Harus lebih membara."


Saat mereka kembali, para cowok kembali membahas soal Joon Hee, meteka penasaran alasan sebenarnya sampai seorang ahli seperti Joon Hee sampai ragu-ragu. Pasti ada alasan fatal apa dibalik itu.

Joon Hee: Cuma... takut ada 'jika'.

Rekan: Apaan itu? Maksudmu kau tidak yakin?

Joon Hee: Bukan. Aku yakin, aku punya.

Seung Cheol: Wanitanya tidak yakin?

Joon Hee: Aku belum buka mulut dan bertanya padanya.

Seung Cheol: Kau juga bisa gugup? Kenapa? Takut ditolak?

Joon Hee: Makanya aku bilang takut ada "jika".

Seung Cheol: Cewek itu tahu kau melakukan hal sampah seperti ini?

Joon Hee: Sampah? Aku kenapa memangnya?

Rekan: Aigoo... Sepertinya kau sangat menyukainya. Saking sukanya serasa mau mati, mau mati.

Joon Hee: Ah, mana. Ayo, ganti topik! Ganti topik!


Se Young: Yang penting untuk sekarang ini kalian masih belum mengambil keputusan apapun. Ya, 'kan?

Joon Hee: Untuk sekarang ini... boleh dibilang begitu.

Dan tiba-tiba Jin Ah menggenggam tangan Joon Hee. Joon Hee tiba-tiba cegukan. Sementara Jin Ah minum dengan santai.

.:Preview:.

First Kiss..
 







*PEMBERITAHUAN*

Aku memutuskan untuk membuat sinopsis ini setelah subtitle nya keluar biar lebih klop dan gak ada yang salah. Jadi dimohon kesabarannya ya Teman-teman

6 komentar

Episode 4 dong min di tunggu semangat 😍

Yang penting dilanjut terus ya kak...aku selalu nungguin tulisanya kakak loh 😊☺

Kereeeennn drama en sinopsisnya..trima ksh KK....ditunggu kelanjutannya dgn berdebar2 hihihi

Yes,q sabar buat couple ini,unyu bangeeet,😘
Pdhl Hae in seumuran sama q,tp q mrsa jd NoonaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon